Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Januari 2014

Indonesia negeri ini kerap di timpa bencana alam, dalam beberapa tahun terakhir  yang masih segar di ingatan kita pada tahun 2004 Bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh,Tsunami Mentawai yang terjadi menyusul gempa berkekuatan 7,2 SR 25 Oktober 2010  melanda Pulau Pagai Selatan di Kepulauan Mentawai, Erupsi Merapi pada tahun 2010, Gempa bumi Sumatra Barat 30 September 2009 terjadi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter di lepas pantai Sumatera Barat pada pukul 17:16:10 WIB tanggal 30 September 2009, Gempa Tasikmalaya 02 September 2009  7,3 Richter yang berpusat di 142 kilometer sebelah barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat, Gempa Bumi Yogyakarta Mei 2006 dan Banjir bandang Waisor 04 Oktober 2010 .
Erupsi Gunung Sinabung, Banjir di Manado, dan Banjir Di Pantura di akhir tahun  2013 dan awal tahun 2014 ini menambah lagi daftar bencana alam di Indonesia. Akibat bencana mereka yang kehilangan anggota keluarga, sanak pamili, tempat tinggal, lahan pertanian dan harta benda mereka sungguh sesuatu yang miris dari sebuah sejarah bencana alam, ribuan bahkan puluhan ribu pengungsi akibat bencana.
Indonesia memang terdiri dari beragam suku, agam, kultur budaya dan tingkat kepedulian yang tinggi antar sesama, kita bisa melihat ketika terjadi suatu bencana alam masyarakat di Indonesia tak tinggal diam tak hanya berpangku tangan kepada pemerintah saja untuk membantu mereka yang terkena musibah, semua turut merapatkan barisan untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah, bisa kita lihat dengan banyak berdirinya posko-posko bantuan yang berdiri diberbagai kota di Indonesia, segerombolan orang, Organisasi, atau Komunitas yang membawa kotak kardus yang berdiri di pinggir jalan, lampu merah, pusat pusat keramaian mereka tak perduli terik matahari yang membakar mereka atau dinginnya malam yang mereka lewati, mereka hanya menyuarakan donasi untuk korban bencana alam entah itu sambil berjualan atau mengamen. Orang orang yang punya rasa social yang luar biasa, menyisihkan waktu dan tenaga mereka untuk beraksi di pingggir jalan, Sungguh mereka peduli, mereka bahu membahu membantu meringankan beban para pengungsi akibat bencana alam negeri ini tampa pamrih. Semoga apa yang kalian lakukan ini menjadi berkah tersendiri dalam perjalanan hidup kalian.

Penulis                        : Leo Chandra
Sumber Refrensi         : https://www.academia.edu/4066595/Bencana_Alam_di_Indonesia_10_Tahun_Terakhir

Senin, 20 Januari 2014

Gunung Sinabung (bahasa Karo: Deleng Sinabung) adalah gunung api di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Sinabung bersama Gunung Sibayak di dekatnya adalah dua gunung berapi aktif di Sumatera Utara dan menjadi puncak tertinggi di provinsi itu. Ketinggian gunung ini adalah 2.460 meter.
Pada tahun 2013, Gunung Sinabung meletus kembali, sampai 18 September 2013, telah terjadi 4 kali letusan. Letusan pertama terjadi ada tanggal 15 September 2013 dini hari, kemudian terjadi kembali pada sore harinya. Pada 17 September 2013, terjadi 2 letusan pada siang dan sore hari.Letusan ini melepaskan awan panas dan abu vulkanik. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya akan peningkatan aktivitas sehingga tidak ada peringatan dini sebelumnya. Hujan abu mencapai kawasan Sibolangit dan Berastagi. Tidak ada korban jiwa dilaporkan, tetapi ribuan warga pemukiman sekitar terpaksa mengungsi ke kawasan aman.
(Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Sinabung)

Jumlah pengungsi terakhir 27.671 orang. Peningkatan hari ini cukup besar karena tadi ada penduduk satu kampung, dari Sukandebi mengungsi. Mereka mengungsi karena tak tahan lagi menghadapi abu vulkanik hingga tanggal  (18/1/2014) malam.
(Sumber :http://www.tribunnews.com/regional/2014/01/19/jumlah-pengungsi-erupsi-gunung-sinabung-capai-27671-orang)


Sedikit penjelasan diatas tentang erupsi Gunung Sinabung, bencana di Indonesia memang kerap terjadi, beberapa bencana besar seperti Tsunami Aceh pada tahun 2004, Erupsi Merapi Tahun 2006 dan banyak lagi bencana alam yang menimpa Indonesia tapi seluruh masyarakat Indonesia tak pernah tinggal diam untuk membantu saudara-saudara yang tertimpa musibah, tak hanya mengandalkan pemerintah saja untuk membantu kesusahan merekan yang mendapat musibah bencana alam. Berbagai hal dilakukan untuk bisa membatu meringankan mereka yang tertimpa musibah, dengan menjadi relawan langsung di tempat terjadinya bencana, membuat pojok-pojok bantuan dana, pakaian dan makanan dan penggalangan dana untuk disalurkan kepada saudara-saudara yang terkena musibah.

Kemarin, Minggu tanggal 19 Januari 2014, Tujuh belas orang pemuda – pemudi dari berbagai komunitas pendaki dan traveler di Jogja menggalang dana untuk pengungsi dan relawan Erupsi Gunung Sinabung. Beberapa hari sebelumnya dari ide Mas Lucky dan Mas Eka yang mau mngadakan pergerakan ini, jadi kita tidak hanya berkampanye melalui Sosial Media saja untuk membantu saudara-saudara kita di sinabung, kita harus melakukan suatu pergerakan yang nyata.

Penggalangan dana dilakukan di Sunday Morning (Sunmor) UGM berkumpul sejak 06.30 lalu keliling Sunmor UGM dan berhenti didepan Polsek BulakSumur berdiri disana untuk meminta donasi kepada siapa saja yang lewat “Mari mbak, mas, pak, bu donasinya buat pengungsing sinabung” begitulah kira-kira ungkapan yang keluar dari mulut kami, banyak juga yang memberi tapi juga lebih banyak yang hanya lewat dan memberi hanya dengan senyuman. Ada satu momen dimana saya berfikir tentang tingkat kepdulian orang lain terhadap sebuah bencana, seorang laki-laki muda dengan membawa biola mungkin dia seorang pengamen jalanan dengan cepat dia merogoh kantongnya karna melihat kami berdiri memegang kotak kardus yang berisi uang hasil dan memberi donasi kepada kami lalu pergi, beberapa menit berlalu dan pengamen itu kemudian lewat lagi dan memasukkan uang lagi ke kotak kardus kami, disini aku benar benar terdiam sejenak seraya memperhatikan pengamen itu, dalam hati saya berkata “Baik sekali pengamen ini, semoga dia diberikan kemurahan rezeki, amiin” uang yang diberikan kepada kami untuk donasi itu mungkin hasil dari dia mengamen di jalanan dan rela berbagi untuk pengungsi Sinabung, tapi disisi lain banyak orang yang lewat dengan gaya parlente yang mungkin juga orang kaya yang hanya lewat tak berpikir untuk member sedikit rezeki mereka untuk saudara saudara kita yang lagi terkena musibah, entah lah manusia memang di ciptakan dengan tingkat kepedulian social yang berbeda. jam sudah menunjukan pukul 10.00 Wib penggalangan dana yang kami lakukan selesai, dan tinggala menghitung hasilnya.

Dari hasil penggalangan dana ini terkumpul bantuan sebanyak Rp. 1.047.200 (Satu juta empat puluh tujuh ribu dua ratus rupiah) yang disimpan oleh bendahara komunitas, Rinda. Komunitas penggalangan dana ini diketuai oleh Eka. Teman-teman yang terlibat dalam penggalangan dana antara lain ; Eka , Lucky, Moncoz, Belen, Riskita, Jeff, Leo(saya), Amin, Allink, Ian. Ani, Rinda, Aris, Indra, Rifqi dan dua lagi anonim (lupa namanya), semoga amal ibadahnya membawa manfaat dan menginspirasi teman-teman lain untuk terlibat.
Akun twitter publik yang berpartisipasi dalam penggalangan dana : @KaskusOANC, @Bpi_Jogja, @bpc_Jogja,@jogjastudent, dll.



Dari hasil breafing setelah pengalangan dana pertama tanggal 19 Januari 2014 disepakati :

1       Penggalangan dana selanjutnya akan dilaksanakan di titik Nol Kilometer pada tanggal 27 Januari 2014 mulai jam 7 malam.
    Dana yang terkumpul akan dikumpulkan ke relasi di Jakarta untuk di distribusikan ke Sinabung menurut keperluan mendesak yang diperlukan di Sinabung, Bantuan juga bisa diberikan berupa pakaian (baju, celana, selimut, dsb).
      Hastag untuk memudahkan pencarian twitter khusus untuk wilayah Yogyakarta disepakati #Jogja4sinabung.

Suatu bentuk kepedulian terhadap saudara-saudara yang terkena musibah Erupsi Gunung Sinabung dengan teman-teman yang hebat dalam penggalangan dana ini. 

Sabtu, 18 Januari 2014

Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik. Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin anda pernah mengalami pengalaman buruk yang tak menyenangkan, maka keburukan itu hanya karena anda melihat dari salah satu sudut mata yg berkaitan uang saja.
Bila anda berani menengok ke sisi yang lain, anda akan menemukan pemandangan yang jauh berbeda. Anda tidak harus menjadi orang tersenyum terus atau menampakkan wajah yang ceria.
Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di muka. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis dan muka.
Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu mereka mengalir menuju ke laut. Meskipun melalui anak sungai, belokan, kawasan kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di muara, setiap tetes air tahu, suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke pucuk-pucuk gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rumput, sebagian tertampung dalam sumur-sumur atau telaga. Sebagian kembali ke laut. Adakah sesuatu yang sia-sia dari setiap tetes air yang anda temui?
Masalah Adalah Hadiah.
Bila anda menganggap masalah sebagai beban, anda mungkin akan menghindarinya atau menjauhinya. Bila anda menganggap masalah sebagai halangan, anda mungkin akan menghadapinya. Namun, masalah adalah hadiah yang dapat anda terima dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, anda melihat kejayaan di balik setiap masalah.
Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk kesuksesan anda. Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur kesuksesan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.
Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi. Bukan pula, dekapan hangat di malam-malam yang dingin. Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tempat yang tinggi.
Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan, matilah aku. Beberapa ketika kemudian, bukan kematian yang mereka terima, namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang. Bila anda tidak berani mengatasi masalah, andatidak akan menjadi seseorang yang sejati.

Sumber : http://www.emotivasi.com/2008/08/18/masalah-adalah-hadiah/#more-406
Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.
Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.”
Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.”
Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.


Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!”
Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta.
Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!”
Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!”
Si buta tertegun..
Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.”
Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.”
Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.
Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita.
Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?”
Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.”
Senyap sejenak.
secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?”
Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya.,” sembari meledak dalam tawa.
Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.
Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta.
Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.”
Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).
Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.
Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.
Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.
Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.
Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.
Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.
Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.
Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.

Sumber : http://www.emotivasi.com/2012/01/30/jadilah-pelita/#more-417

Selasa, 31 Desember 2013

2013 akan segera berakhir, tahun dengan segudang cerita campur aduk, campur sari, campur galau campur risau, campur cincau sama cendol + gula merah. 1 bungkus rokok segelas kopi menemaniku sekarang aku ingin bercerita tentang tahun ini, pertama tentang 15 surat lamaran kerja yang ditolak yang menurutku masih berungtung, gimana kalau 15 pernyataan cinta yang ditolak itu kudu mandi kembang tengah malam broo hahahaa maklum JONES ( Jomblo Ngenes ) . 15 surat lamaran yang ditolak itu mengingatkan aku dengan lagu bang iwan kira kira liriknya gini “ engkau sarjana muda resah mencari kerja mengandalkan ijazahmu” entah apa yang salah prasaan aku selalu mandi ketika masukin lamaran itu, IPK juga tidak jelek jelek amat , risau rasanya jadi pengangguran otak mampet jarang gerak berpontensi besar menyababkan obesitas, ada sebuah pernyataan entah itu benar atau tidak tapi aku pernah dengar kira kira begini bunyinya “ kesuksesan sesorang itu dapat diukur dari sebarapa besar lingkaran perutnya” naah ini perutku diameternya lumayan, kira kira seperti ibu hamil 3bulan, bisa kalian bayangkan seberapa besar?? Hahahaaaahh.  usaha belum dapat hasil ditambah ada satu hal yang selalu mengusik pikiran, ini tentang sebuah kenangan di kota jogja ini, tentang seseorang yang dulu selalu menyambut pagiku dengan hangat senyumnya, menemani hari hariku dengan canda tawa cerianya, dulu malamku tak pernah sepi, ketika aku melihat langit ada satu kejora yang selalu menemaniku dengan sinar terangnya, tapi kini kejora itu tak dapat aku lihat lagi, entah dimana kejora itu, atau kejora itu bersinar disisi langit lain, masa lalu dan kenangan memang selalu mengajarkan manusia tentang arti dari sebuah rindu, tentang arti kebersamaan dan hening malam yang menyapa lamunan tentang hati yang sepi, ya cerita cinta itu menjadi pahit karena ulahku sendiri jadi harus siap dengan konsekuensinya. Ini juga salah satu alasan kenapa aku kembli lagi ke jogja, aku berniat untuk memperbaiki kembali cerita itu, tapi apa daya semua sudah terlambat, kenyataan harus dihadapi dan hidup harus tetap berjalan.
 Lamaran kerja yang ditolak dan tiap pagi sarapan kenangan lengkap sudah penderitaan, aku resmi sebagai orang teraniaya ada yang bilang kalo doa orang teraniaya itu mudah di ijabah, yaaa, aku juga menerapkan metode itu, walau dalam urusan agama dan beribadah aku bukan termasuk oarng yang taat tapi sedikit banyak adalah aku berdoa juga disamping semua usaha usaha yang pernah aku coba, mengharap kemudahan dari allah SWT.
Hari hari terasa semakin suram, tembok dan jalanan jogja ini jadi saksi semua yang aku rasakan saat ini, kebosanan muncul tanpa permisi mungkin aku lelah hahahaa, otak mungkin perlu penyegaran setelah sumpek dengan semua yang terjadi, jalan jalan men mungkin salah satu cara untuk sedikit menyegarkan otak, nah disini aku mulai mendaki gunung melewati lembah sebagai pelarian sementara dan menghirup udara segar, energy energy positif dari alam bertemu orang orang baru memecah sepi dengan senda gurau canda tawa atau apalah yang bisa membuat hati senang, belajar lagi tetang arti hidup di alam bebas, bagian jalan jalan men ini ternyata sangat asik aku banyak ketemu oarng orang baru dan kemudian menjadi akrab, bermacam macam karakter orang aku temui, bahkan ada yang sudah seperti saudara, kocak, lucu dan sangat bersahabat, tapi juga ada yang super duper aneh wahahaha. Intinya banyak hal yang aku pelajari dari semua perjalanan, pendakian yang aku lewati.
Masuk ke alasan lain aku kembali ke jogja, aku ingin meneruskan pendidikan ke jenjang S1 setelah di awal tahun 2012 lalu aku selesai menempuh D3 dengan status kemelut, masuk dunia kuliah lagi sebenarnya membosankan tapi tetap haru di tempuh ini sudah jadi target permanen, Cuma kadang bingung menutupi biayanya, rencana semua sambil bekerja, kerjaan yang dicari cari tak kunjung ketemu, ada sih kerjaan sampingan sekarang, naah ini juga sebagai ajang promosi kalau kalau ada yang baca tulisan ini, kalian kalau mau pesan jersey bola  GO/PI dalam jumlah satuan atau partai besar bisa lewat saya, atau mau bikin jersey team futsal, football dengan desain sendiri bisa juga menghubungi saya, sekarang juga lagi mulai memasarkan kaos dengan tema #PNS (Pejalan Non Sistematis) harga kita bisa nego, kontak pribadi saya tercatat di profil blog ini.
Tahun ini memang sedikit lebih sulit aku hadapi, diantara usaha usaha yang belum menemukan hasil dan terjebak nostalgia, diantara sepi, hari hari yang tak bermakna dan ada kalanya dimana seseorang merasa menjadi paling tak berguna, dunia sedang tak mengarah padanya, dan merasa diperlakukan dengan tak adil, beberapa orang pernah berkata tak ada gunannya terus menerus meratapi kesalahan dan kegagalan, bangkit dan berusaha keluar dari keterpurukan itu adalah hal yang paling rasional yang bisa dilakukan dengan semangat yang baru. 2013 akan segera berakhir, semangat untuk memasuki tahun yang baru semoga saja usaha yang aku akan lakukan diberkahi doa dan harapan kedua orang tuaku bisa aku penuhi, semoga ada pencerahan dan keberuntungan di tahun depan amiiiin.